Episode 2 Tugas Besar IMKA: Pintu, Kamera, atau Kursi??
Halo semua pengunjung Timi's Blog
Welcome back to Timi's Blog, nah udah penasaran kan kenapa judulnya Pintu, Kamera, atau Kursi? Nah pada postingan kali ini merupakan episode 2 dari Tugas Besar IMKA. Di episode 2 ini aku bakalan ceritain nih kira-kira bagaimana alternatif solusi yang kami ajukan berdasarkan analisis masalah, peluang, dan kebutuhan dari Institut Teknologi Bandung.
Nah sedikit kita flashback, cieelah yang penting jangan flashback kenangan sama mantan ya, karena itu sedikit menyakitkan :"( . Oke sudah jadi baper nih aku sambil nulis karena teringat sang mantan. Mau tau mantanku siapa? Sudahlah sudah tidak penting untuk dibahas lagi. Jadi, kita tahu sebelumnya di Episode 1, bahwa kebutuhan saat ini yang dibutuhkan oleh Institut Teknologi Bandung adalah sistem yang dapat membantu dalam pengumpulan dan penyatuan informasi yang valid terkait kegiatan perkuliahan terutama mahasiswa. Selain itu, optimalisasi fungsi kerja lembaga pengkajian pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam mengkaji pembangan program pendidikan juga diperlukan untuk pengembangan sistem belajar mengajar di ITB.
Dari kebutuhan tersebut kami mengajukan solusi yaitu CESBoSA (Course Evaluation System Based on Student Attendance). Dalam mengajukan solusi, kami hanya membedakan pada komponen yang digunakan untuk pengembangan sistem belajar mengajar. Jadi, sebenarnya sistem ini adalah sistem yang dapat menghitung jumlah mahasiswa yang hadir di mata kuliah tertentu, membandingkan kehadiran dengan persentase kelulusan mahasiswa di mata kuliah tertentu, dan memberikan evaluasi dan saran untuk dosen, bagian akademik untuk pengembangan mata kuliah tersebut kedepannya.
Ada 3 solusi yang diajukan, yaitu:
1. Menggunakan sensor yang dipasang di pintu kelas (Rifda)
Nah untuk solusi ini itu kami pengennya menggunakan sensor infrared (PIR Sensor) yang dipasang di pintu kelas. Ketika mahasiswa memasuki kelas, maka otomatis sensor akan menangkap gerak-gerik mahasiswa tersebut dan mulai menghitung jumlah mahasiswa yang hadir. Dari data tersebut tiap harinya akan dibandingkan dengan absensi yang disebar di kelas. Di akhir mata perkuliahan, akan dihitung rata-rata jumlah mahasiswa yang hadir dan dibandingkan dengan persentase kelulusan mata kuliah. Apabila dilihat persentase kelulusan mahasiswa dan kehadiran rendah, maka tim akan menganalisis apa yang harus diperbaiki dari mata kuliah tersebut. Hasil evaluasi akan dikirim ke dosen dan tim akademik terkait mata kuliah tersebut untuk dikaji ulang dan dilakukan perbaikan-perbaikan agar kedepannya mata kuliah tersebut dapat lebih baik dari sebelumnya.
2. Menggunakan sensor yang dipasang di masing-masing kursi yang ada di kelas (Saskia)Nah untuk solusi ini itu kami pengennya menggunakan sensor ultrasonik yang dipasang di tiap-tiap kursi kelas. Jadi, ketika ada mahasiswa yang duduk di kursi tertentu, maka otomatis sensor akan menghitung jumlah mahasiswa yang duduk di kursi tersebut. Dari data tersebut tiap harinya atau tiap pertemuan mata kuliah, akan dibandingkan dengan absensi yang disebar di kelas. Di akhir mata perkuliahan, akan dihitung rata-rata jumlah mahasiswa yang hadir dan dibandingkan dengan persentase kelulusan mata kuliah. Apabila dilihat persentase kelulusan mahasiswa dan kehadiran rendah, maka tim akan menganalisis apa yang harus diperbaiki dari mata kuliah tersebut. Hasil evaluasi akan dikirim ke dosen dan tim akademik terkait mata kuliah tersebut untuk dikaji ulang dan dilakukan perbaikan-perbaikan agar kedepannya mata kuliah tersebut dapat lebih baik dari sebelumnya.
3. Menggunakan kamera yang dipasang di kelas (Fahmi)
Nah untuk solusi terakhir, kami pengennya ada kamera yang dapat menangkap seluruh kepala yang ada di kelas. Jadi, kamera akan melakukan perhitungan jika mengenali bahwa objek yang ditangkap adalah manusia, atau dalam konteks ini adalah mahasiswa. Dari data tersebut tiap harinya atau tiap pertemuan mata kuliah, akan dibandingkan dengan absensi yang disebar di kelas. Di akhir mata perkuliahan, akan dihitung rata-rata jumlah mahasiswa yang hadir dan dibandingkan dengan persentase kelulusan mata kuliah. Apabila dilihat persentase kelulusan mahasiswa dan kehadiran rendah, maka tim akan menganalisis apa yang harus diperbaiki dari mata kuliah tersebut. Hasil evaluasi akan dikirim ke dosen dan tim akademik terkait mata kuliah tersebut untuk dikaji ulang dan dilakukan perbaikan-perbaikan agar kedepannya mata kuliah tersebut dapat lebih baik dari sebelumnya.
Yaa, itu tadi penjelasan untuk masing-masing solusi yang diajukan. Agak panjang dan lelah ya membacanya? Never mind lah. Nah langsung aja yuk kita memilih solusinya. Jengjengjeng. Tapi dalam pemilihan solusi kami gaksembarang cap cip cup kayak lagi milih lauk di warteg. Kami menggunakan feasibility analysis. Nah bagaimana hasil feasibility analysis kami? Check this out!
Dari ketiga pilihan solusi tersebut, dianalisis lebih lanjut dari beberapa aspek. Aspek yang digunakan adalah kompleksitas, akurasi, dan finansial. Untuk solusi yang pertama, yaitu pemasangan sensor pada pintu kelas, memiliki kompleksitas yang cukup tinggi karena komponen harus dipasang di bagian pintu ruang kelas. Dan dari aspek akurasi, solusi ini memiliki akurasi yang cukup tinggi, karena mampu mendeteksi dan menghitung jumlah mahasiswa yang masuk ke dalam kelas. Sedangkan dari aspek finansial, solusi ini membutuhkan biaya yang tidak terlalu besar karena komponen yang digunakan tidak terlalu banyak karena hanya membutuhkan 1 sensor yang dipasang di pintu kelas. Selain itu, kemudahan komponen untuk didapatkan cukup tinggi.
Untuk solusi kedua, yaitu pemasangan sensor pada kursi mahasiswa, memiliki kompleksitas yang tinggi, karena komponen harus dipasang pada seluruh kursi di setiap ruangan kelas yang ada di ITB. Hal ini akan berdampak misalnya pada pemeliharaan dan perawatan komponen yang akan sulit, karena banyaknya komponen yang dipasang. Bisa kita bayangkan berapa jumlah kursi di setiap kelas dan jumlah kelas yang ada di ITB. Selain itu dari segi akurasi, solusi ini memiliki akurasi rendah, karena kita tidak dapat memastikan objek yang ditangkap. Apakah itu objek manusia atau benda. Selain itu, secara finansial solusi ini membutuhkan biaya yang besar karena memerlukan sensor yang cukup banyak untuk ditempatkan di tiap kursi yang ada di ruang kelas.
Terakhir, yaitu untuk pemasangan kamera pada tiap kelas untuk menghitung jumlah mahasiswa, secara kompleksitas memiliki kompleksitas tinggi karena membutuhkan komponen dan program untuk mewujudkan penghitungan jumlah mahasiswa dengan face recognition. Hal ini akan membutuhkan pengembangan ang kompleks. Sedangkan dari aspek akurasi, solusi ini juga memiliki akurasi tinggi, karena jika fitur face recognition dapat berjalan dengan baik, maka akurasi penghitungan jumlah mahasiswa akan mendekati jumlah yang tepat dibandingkan dua solusi lain. Dan dari segi aspek finansial, solusi ini membutuhkan biaya pengembangan yang tinggi dan kemampuan untuk mendapatkan komponen cukup sulit dan mahal.
Berdasarkan analisis solusi, maka dapat disimpulkan kami menyimpulkan untuk membuat CESBoSA (Course Evaluation System Based on Student Attendance) dengan menggunakan sensor PIR yang dipasang di setiap pintu kelas untuk menghitung jumlah mahasiswa yang hadir.
Nah, setelah sekian panjang lebar aku ngomong, akhirnya kita sudah sampai di penghujung postingan *berasa acara TV atau siaran radio* nih gengs. Okee mau tau kelanjutan dari tugas besar IMKA yang makin waw? Tunggu episode 3 nya yah !! Keep visiting my blog ya gengs 💓
Nah sedikit kita flashback, cieelah yang penting jangan flashback kenangan sama mantan ya, karena itu sedikit menyakitkan :"( . Oke sudah jadi baper nih aku sambil nulis karena teringat sang mantan. Mau tau mantanku siapa? Sudahlah sudah tidak penting untuk dibahas lagi. Jadi, kita tahu sebelumnya di Episode 1, bahwa kebutuhan saat ini yang dibutuhkan oleh Institut Teknologi Bandung adalah sistem yang dapat membantu dalam pengumpulan dan penyatuan informasi yang valid terkait kegiatan perkuliahan terutama mahasiswa. Selain itu, optimalisasi fungsi kerja lembaga pengkajian pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dalam mengkaji pembangan program pendidikan juga diperlukan untuk pengembangan sistem belajar mengajar di ITB.
Dari kebutuhan tersebut kami mengajukan solusi yaitu CESBoSA (Course Evaluation System Based on Student Attendance). Dalam mengajukan solusi, kami hanya membedakan pada komponen yang digunakan untuk pengembangan sistem belajar mengajar. Jadi, sebenarnya sistem ini adalah sistem yang dapat menghitung jumlah mahasiswa yang hadir di mata kuliah tertentu, membandingkan kehadiran dengan persentase kelulusan mahasiswa di mata kuliah tertentu, dan memberikan evaluasi dan saran untuk dosen, bagian akademik untuk pengembangan mata kuliah tersebut kedepannya.
Ada 3 solusi yang diajukan, yaitu:
1. Menggunakan sensor yang dipasang di pintu kelas (Rifda)
Nah untuk solusi ini itu kami pengennya menggunakan sensor infrared (PIR Sensor) yang dipasang di pintu kelas. Ketika mahasiswa memasuki kelas, maka otomatis sensor akan menangkap gerak-gerik mahasiswa tersebut dan mulai menghitung jumlah mahasiswa yang hadir. Dari data tersebut tiap harinya akan dibandingkan dengan absensi yang disebar di kelas. Di akhir mata perkuliahan, akan dihitung rata-rata jumlah mahasiswa yang hadir dan dibandingkan dengan persentase kelulusan mata kuliah. Apabila dilihat persentase kelulusan mahasiswa dan kehadiran rendah, maka tim akan menganalisis apa yang harus diperbaiki dari mata kuliah tersebut. Hasil evaluasi akan dikirim ke dosen dan tim akademik terkait mata kuliah tersebut untuk dikaji ulang dan dilakukan perbaikan-perbaikan agar kedepannya mata kuliah tersebut dapat lebih baik dari sebelumnya.
2. Menggunakan sensor yang dipasang di masing-masing kursi yang ada di kelas (Saskia)Nah untuk solusi ini itu kami pengennya menggunakan sensor ultrasonik yang dipasang di tiap-tiap kursi kelas. Jadi, ketika ada mahasiswa yang duduk di kursi tertentu, maka otomatis sensor akan menghitung jumlah mahasiswa yang duduk di kursi tersebut. Dari data tersebut tiap harinya atau tiap pertemuan mata kuliah, akan dibandingkan dengan absensi yang disebar di kelas. Di akhir mata perkuliahan, akan dihitung rata-rata jumlah mahasiswa yang hadir dan dibandingkan dengan persentase kelulusan mata kuliah. Apabila dilihat persentase kelulusan mahasiswa dan kehadiran rendah, maka tim akan menganalisis apa yang harus diperbaiki dari mata kuliah tersebut. Hasil evaluasi akan dikirim ke dosen dan tim akademik terkait mata kuliah tersebut untuk dikaji ulang dan dilakukan perbaikan-perbaikan agar kedepannya mata kuliah tersebut dapat lebih baik dari sebelumnya.
3. Menggunakan kamera yang dipasang di kelas (Fahmi)
Nah untuk solusi terakhir, kami pengennya ada kamera yang dapat menangkap seluruh kepala yang ada di kelas. Jadi, kamera akan melakukan perhitungan jika mengenali bahwa objek yang ditangkap adalah manusia, atau dalam konteks ini adalah mahasiswa. Dari data tersebut tiap harinya atau tiap pertemuan mata kuliah, akan dibandingkan dengan absensi yang disebar di kelas. Di akhir mata perkuliahan, akan dihitung rata-rata jumlah mahasiswa yang hadir dan dibandingkan dengan persentase kelulusan mata kuliah. Apabila dilihat persentase kelulusan mahasiswa dan kehadiran rendah, maka tim akan menganalisis apa yang harus diperbaiki dari mata kuliah tersebut. Hasil evaluasi akan dikirim ke dosen dan tim akademik terkait mata kuliah tersebut untuk dikaji ulang dan dilakukan perbaikan-perbaikan agar kedepannya mata kuliah tersebut dapat lebih baik dari sebelumnya.
Yaa, itu tadi penjelasan untuk masing-masing solusi yang diajukan. Agak panjang dan lelah ya membacanya? Never mind lah. Nah langsung aja yuk kita memilih solusinya. Jengjengjeng. Tapi dalam pemilihan solusi kami gaksembarang cap cip cup kayak lagi milih lauk di warteg. Kami menggunakan feasibility analysis. Nah bagaimana hasil feasibility analysis kami? Check this out!
Dari ketiga pilihan solusi tersebut, dianalisis lebih lanjut dari beberapa aspek. Aspek yang digunakan adalah kompleksitas, akurasi, dan finansial. Untuk solusi yang pertama, yaitu pemasangan sensor pada pintu kelas, memiliki kompleksitas yang cukup tinggi karena komponen harus dipasang di bagian pintu ruang kelas. Dan dari aspek akurasi, solusi ini memiliki akurasi yang cukup tinggi, karena mampu mendeteksi dan menghitung jumlah mahasiswa yang masuk ke dalam kelas. Sedangkan dari aspek finansial, solusi ini membutuhkan biaya yang tidak terlalu besar karena komponen yang digunakan tidak terlalu banyak karena hanya membutuhkan 1 sensor yang dipasang di pintu kelas. Selain itu, kemudahan komponen untuk didapatkan cukup tinggi.
Untuk solusi kedua, yaitu pemasangan sensor pada kursi mahasiswa, memiliki kompleksitas yang tinggi, karena komponen harus dipasang pada seluruh kursi di setiap ruangan kelas yang ada di ITB. Hal ini akan berdampak misalnya pada pemeliharaan dan perawatan komponen yang akan sulit, karena banyaknya komponen yang dipasang. Bisa kita bayangkan berapa jumlah kursi di setiap kelas dan jumlah kelas yang ada di ITB. Selain itu dari segi akurasi, solusi ini memiliki akurasi rendah, karena kita tidak dapat memastikan objek yang ditangkap. Apakah itu objek manusia atau benda. Selain itu, secara finansial solusi ini membutuhkan biaya yang besar karena memerlukan sensor yang cukup banyak untuk ditempatkan di tiap kursi yang ada di ruang kelas.
Terakhir, yaitu untuk pemasangan kamera pada tiap kelas untuk menghitung jumlah mahasiswa, secara kompleksitas memiliki kompleksitas tinggi karena membutuhkan komponen dan program untuk mewujudkan penghitungan jumlah mahasiswa dengan face recognition. Hal ini akan membutuhkan pengembangan ang kompleks. Sedangkan dari aspek akurasi, solusi ini juga memiliki akurasi tinggi, karena jika fitur face recognition dapat berjalan dengan baik, maka akurasi penghitungan jumlah mahasiswa akan mendekati jumlah yang tepat dibandingkan dua solusi lain. Dan dari segi aspek finansial, solusi ini membutuhkan biaya pengembangan yang tinggi dan kemampuan untuk mendapatkan komponen cukup sulit dan mahal.
Berdasarkan analisis solusi, maka dapat disimpulkan kami menyimpulkan untuk membuat CESBoSA (Course Evaluation System Based on Student Attendance) dengan menggunakan sensor PIR yang dipasang di setiap pintu kelas untuk menghitung jumlah mahasiswa yang hadir.
Nah, setelah sekian panjang lebar aku ngomong, akhirnya kita sudah sampai di penghujung postingan *berasa acara TV atau siaran radio* nih gengs. Okee mau tau kelanjutan dari tugas besar IMKA yang makin waw? Tunggu episode 3 nya yah !! Keep visiting my blog ya gengs 💓

Komentar
Posting Komentar